Rabu, 31 Januari 2018

APA ITU ROCK CLIMBING??



R
ock climbing? Mungkin banyak orang yang masih asing dengan olahraga yang satu ini. Mungkin banyak yang berpikir olahraga yang bersifat adrenalin ini cukup menakutkan bagi masyarakat.
Tetapi aktivitas rock climbing atau panjat tebing sudah dikenal masyarakat sejak lama bahkan masyarakat tradisional, mereka melakukan pemanjatan gu na mencari sumber kehidupan ataupun perlindungan, khususnya didaerah pantai dan kawasan karst untuk mencari sarang  burung atau sumber mata air. Tetapi mereka tidak memakai system dan prosedur yang baku seperti dalam olahraga panjat tebing sehingga faktor keamanan dan tingkat resiko yang dihadapi sangatlah tinggi.

Pengertian rock climbing sendiri adalah suatu olah raga yang mengutamakan kelenturan, kekuatan / daya tahan tubuh, kecerdikan, kerja sama team serta ketrampilan dan pengalaman setiap individu untuk menyiasati tebing itu sendiri. Dalam menambah ketinggian dengan memanfaatkan cacat batuan maupun rekahan / celah yang terdapat ditebing tersebut serta pemanfaatan peralatan yang efektif dan efisien untuk mencapai puncak pemanjatan.
Awalnya rock climbing merupakan olah raga yang bersifat petualangan murni dan sedikit sekali memiliki peraturan yang jelas, seiring dengan berkembangnya olah raga itu sendiri dari waktu kewaktu telah ada bentuk dan standart baku dalam aktifitas dalam panjat tebing yang diikuti oleh penggiat panjat tebing. Banyaknya tuntutan tentang perkembangan olah raga ini memberi alternatif yang lain dari unsur petualangan itu sendiri. Dengan lebih mengedepankan unsur olah raga murni (sport).
Dalam rock climbing sendiri mempunyai berbagai dua system pemanjatan yaitu himalayan system dan alpen system. Dan dilihat dari pealatannya rock climbing juga dibagi menjadi dua yaitu artificial climbing dan free climbing.
Meski pun rock climbing olah raga bersifat menantang tetapi rock climbing mengedepankan keselamatan pemanjat. Itu terbukti dengan adanya berbagai alat rock climbing seperti tali carmantel, carrabiner, sepatu, harness, ascender, descender, piton, hammer, helm dan sebagainya yang berfungsi untuk melindungi dan menahan pemanjat agar tidak jatuh. Di rock climbing juga terdapat savety oprasional procedure yang harus dilaksanakan dan dilakukan demi keselamatan pemanjat itu sendiri.
Masih ada banyak lagi yang perlu diketahui tentang rock climbing. Intinya rock climbing membutuhkan teknik dan peralatan khusus serta kondisi tubuh yang prima.

Oleh: Zahrina Zulfatih (NTA:AT.160794.XXI.168 PA)
SUMBER:
2010. Aldakawanseta Udinus Semarang. Materi Panjat Tebing (Rock Climbing)





Senin, 08 Januari 2018

MAPALA MITAPASA IKUTI JAMBORE PANJAT TEBING SE-INDONESIA





(dokumentasi  milik pribadi)


Euforia akhir tahun 2017 menjadi momen spesial tersendiri bagi beberapa orang yang menanti
datangnya tahun baru 2018. Unit Kegiatan Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) MITAPASA Institut
Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga tak begitu saja melewatkan momen ini, kali ini dua atlit panjat
tebing diterjunkan dalam acara Jambore Panjat Tebing di Pantai Siung.
Kegiatan ini berlangsung pada hari Minggu, 31 Desember 2017 di Pantai Siung, Tepus, Gunungkidul,
Yogyakarta. Acara tersebut sedikitnya diikuti 182 peserta dari berbagai daerah diseluruh Indonesia
dari atlit lokal hingga atlit nasional.

“Jambore Panjat Tebing ini merupakan event yang akan kita laksanakan tiap tahun yang
diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Gunungkidul”, ungkap Saryanto, KA Dinas Pariwisata
Gunungkidul.



Kegiatan penutupan di tahun 2017 ini merupakan agenda rutin yang diselenggarakan oleh Dinas
Pariwisata Gunungkidul, Yogyakarta untuk mempromosikan Pantai Siung sebagai obyek wisata yang
memiliki banyak medan panjat tebing alami. Selain itu, juga untuk memasyaratkan kegiatan olahraga
panjat tebing dan mencari bibit-bibit atlit panjat tebing. Adapun untuk tim teknis melibatkan
Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Daerah Istimewa Yogyakarta.



Jambore Panjat Tebing ini dibagi menjadi dua kategori yaitu kategori pelajar dan umum. Untuk
kategori pelajar diikuti oleh atlit-atlit panjat yang masih duduk dibangku sekolah sedangkan kategori
umum diikuti oleh atlit-atlit Mapala, freelance, lokal hingga atlit nasional. Pemanjatan yang
dilakukan kali ini dengan model “Fun Climbing” dimana juara tidak ditentukan oleh seberapa tinggi
peserta memanjat di tebing, akan tetapi ditentukan oleh poin terbanyak hasil pengambilan undian.
Peserta diwajibkan untuk melakukan pemanjatan dua jalur untuk bisa mengambil undian tersebut.
Selebihnya peserta dibebaskan untuk melakukan pemanjatan di 25 jalur lainnya.





Adapun dua atlit MITAPASA yaitu Nur Colis (Tadris Matematika /5) dan Sukma Widyaningtyas
(PGMI/3). Jambore Panjat Tebing ini dapat memotivasi untuk belajar lebih giat lagi.
“Dengan mengikuti kegiatan Jambore Panjat Tebing ini kami bisa belajar banyak tentang climbing,
dan memotivasi kami untuk bisa belajar lebih giat lagi untuk meningkatkan skill kami,” ucap Sukma,
anggota MITAPASA.

Pimpinan redaksi: TIM Humas Mapala Mitapasa