Minggu, 26 Januari 2014

Mountainering

MOUNTAINERING DASAR

 A. PENDAHULUAN 
 Mountainering adalah semua jenis kegiatan alam bebas yang memerlukan peralatan tertentu serta keterampilan atau keahlian yang memadai, oleh karena risiko yang dihadapi sangat tinggi. Mendaki gunung bukan olah raga biasa, setidaknya pendaki gunung harus memiliki mental yang lebih. Keterampilan, kecedarsan, kekuatan dan daya juang yang tinggi. Hal ini karena tantangan yang akan ia hadapi ketika menjalankan aktivitasnya sebagai penggiat alam bebas. Pada hakekatnya tantangan yang dihadapi itu akan menguji kemampuaan diri sendiri. Keberhasilan itu berarti keunggulan terhadap rasa takut dan kemenangan menghadapi diri sendiri. Pendakian gunung dimulai sejak dua abad yang lalu. Ketika puncak pegunungan Alpen sudah berhasil didaki, para pendaki mengalihkan perhatiannya ke pegunungan Himalaya.pendakian gunung inilah yang mengawali lahirnya panjat tebing atau Rock Climbing. Beberapa tokoh dunia dalam kegiatan pendakian, diantaranya Yvon Chouinard merupakan pemanjat pertama pada dinding utara El Capitan dan juga merupakan penemu dari pasak piton : Royal Robbins pada usia 17 tahun sudah menjadi pemandu serta mengembangkan teknik Yosernite Decimal System, yaitu sistem untuk menilai tingkat kesulitan pemanjat. Patrick Berhault pemanjat asal prancis melakukan petualangan selam 6 bulan melakukan pemanjatan 22 puncak di tebing-tebing sekitar pegunungan Alpen dari timur ke barat. Alex dan Thomas Huber, Kakak beradik yang membuat jalur yang diberi nama Golden Gate di El Capitan dengan sistem pemanjatan Free Climbing. 

 B. JENIS-JENIS PEMANJATAN 
 Menurut bentuk dan jenis medan yang dihadapi 
  1. Hill Walking / Feel Walking Perjalanan mendaki bukit yang relatif landai. Tidak membutuhkan peralatan teknis mendaki. Hal utama adalah jalur pemanjatan sudah tersedia. Perjalanan ini dapat memakan waktu sampai beberapa hari, sehingga keterampilan memilih tempat untuk beristirahat sangat diperlukan, kadang-kadang sudah tersedia. 
  2. Scrambling Pemanjatan setahap demi setahap pada suatu permukaan yang tidak begitu terjal. Tangan kadang-kadang dipergunakan hanya untuk keseimbangan.
a. Face Climbing Yaitu pemanjatan pada permukaan tebing dimana masih terdapat tonjolan atau rongga yang memadai sebagai pijakan kaki dan lengan. Friction / Slab Climbing Teknik ini semata-mata hanya mengandalkan gaya gesekan sebagai gaya penumpu. 
b. Fissure Climbing Teknik ini memanfatkan celah yang di pergunakan oleh anggota badan yang seolah-olah berfungsi sebagai pasak. Dengan cara demikian, dan beberapa pengembangan dikenal teknik sebagai berikut. Proses memanjat merupakan gabungan dari berbagai kegiatan dasar, yaitu : 
• Mengamati, mengenal medan dan menentukan lintasan yang akan dilalui baik secara keseluruhan maupan selangkah, yang sangat menentukan untuk langkah berikutnya.
 • Memikirkan teknik yang akan dilalui baik secara keseluruhan maupun selangkah demi selangkah.
 • Mempersiapkan peralatan yang diperlukan.
 • Gerakan memanjat yang sesuai dengan lintasan dan teknik yang direncanakan. 

C. BELAYING 
Adalah suatu cara yang digunakan untuk mengulur tali, juga teknik untuk secara cepat menahan atau mengamankan pemanjat apabila terjatuh. Semua system proteksi dari Rock Climbing tergantung kepada kepastian dari kerja belay Anchor dari Belayer.

D. SISTIM PENDAKIAN 
Dikenal dua macam system pendakian, yaitu a. Himalayan Style Sistem ini biasanya dengan rute perjalanan yang panjang, sehingga membutuhkan waktu yang lama untuk mencapai puncak. Pendakian ini terdiri dari beberapa kelompok dari tenpat peristirahatan. Pemanjatan dengan cara menghubungkan antar base camp melalui tali, perlengkapan dan makanan dikirim secara estafet dari camp ke camp. Sehingga dengan salah satu orang dari seluruh tim berarti pendakian ini sudah berhasil untuk seluruh tim. b. Alpine Style Sistem ini banyak di kembangkan di pegunungan di Eropa. Pendakian ini memiliki rute relative singkat sehingga semua pendaki harus sampai ke puncak baru, pendakian baru dianggap berhasil. Pemanjatan tidak lagi berhubungan dengan base camp, semua perlengkapan di bawa terus.

 E. TEKNIK TURUN/ RAPPELING 
Teknik ini digunakan untuk menuruni tebing. Dan dikatagorikan sebagai teknik yang sepenuhnya bergantung pada peralatan. Prinsip Rappelin sbb : 
• Menggunakan tali rappel sebagai jalur lintasan dan tempat bergantung.
• Menggunakan gaya berat badan dan gaya tolak kaki pada tebing sebagai pendorong gerak turun. 
• Menggunakan satu tangan untuk keseimbangan dan tangan lainnya untuk mengatur kecepatan turun.
• Dalam melakukan rappeling usahakan posisi badan selalu tegak lurus dengan yebing, dan jangan terlalu cepat turun. 
Macam-macam dan variasi teknik rappelling 
a. Body Rappel Menggunakan peralatan tali saja yang dibelitkan sedemikian rupa pada bagian badan. Pada teknik ini terjadi gesekan antara badan dengan tali, sehingga badan yang bergesekan akan panas. 
b. Brakebar Rappel Menggunakan sling/ tali tubuh, carabiner, tali dan brakebar. Modifikasi lain dari brakebar adalah figure of eight pemakaiannya hampir sama di mana gaya gesek diberikan pada Descender atau brakebar. 
c. Sling Rappel Menggunakan sling, tali tubuh, carabiner dan tali. Cara ini juga sering disebut sebagai tekhnik prusiking. 
d. Arm Rappel Menggunakan tali yang dibelitkan pada kedua tangan melewati bagian belakang badan. Dipergunakan untuk tebing yang tidak terlalu curam. 

 F. PERALATAN DASAR MOUNTAINERING 
1. Tali Lintasan Fungsi utama tali adalah untuk melindungi pendaki dari pengaman apabila jatuh. Mengingat fungsi dari tali sanagt penting, maka tali harus kuat. Macam tali berdasarkan kelenturannya :
a. Statis Rope Tali pendaki yang memiliki kelenturan mencapai 2-5% dari berat maksimum yang di berikan, sifatnya kaku. 
b. Dynamik Rope Tali pendakian yang kelenturannya mencapai 5-15% dari berat maksimum yang di berikan, sifatnya lentur dan fleksibel. Macam tali lintasan berdasarkan bahan pembuatannya : * Tali serat alam Tali jenis ini sudang jarang digunakan, kekuatan tali ini rendah dan mudah terburai, tidak memiliki kelenturan. * Hawser Laid Tali sintetis plastic yang dijalin seperti tali serat. Tali relatif lebih kuat kelemahannya adalah tali ini kurang tahan terhadap bahan kimia dan tali ini sulit untuk disimpul. Mempunyai kelenturan rendah. * Carnmantel Rope Tali yang sering digunakan untuk segala jenis kegiatan mountainering, tali ini terdiri dari dalam dua lapisan terbuat dari baja yang kuat, kemudian ditutup dengan lapisan luar yang terbuat dari mantel. 2. Webbing (tali pita) dan sling Memiliki bentuk seperti pita dan ada 2 macam : 
a. Lebar 25 mm berbentuk tabular (dua lapis) sering di gunakan untuk tali tubuh, swambelt, dan alat berbentuk peralatan lainnya. 
b. Lebar 50 mm dan berbentuk pipih Sedangkan sling adalah pita lingkar yang terbuat dari tabular webbing. Fungsinya membuat natural point, menrangi gaya gesek / memperpanjang point, mengurangi gerakan pada chock, dan piton yang terpasang.
3. Carabiner Ada 2 macam carabiners, yaitu : 1. Carabiner Screw Gate ( menggunakan kunci pengaman ) 2. Carabiner Non Screw Gate ( tanpa kunci pengaman ) 
4. Descender Beberapa jenis Descender : a. Figure of Eight b. Auto Stop dan Non Auto Stop c. Modifikasi Carabiners 
5. Ascender Macam Ascendeur adalah : prusik, jumar, dan clog. 
6. Pasak / Piton Ada 4 jenis piton a. Bongs c. Knife- blades dan b. Bugaboos d. Angle.
7. Chock Chock sering di sebut dengan pengaman sisip yang macamnay adalah :
a. Stoper (simetris) 
b. Hexentrik (simetris/segi 6) 
c. Tri Cam (seperti pengungkit) 
d. Copper Head (bandul tembaga) 

8. Friend / Pengaman Sisip Pegas 
9. Harness / Sabuk Pengaman Jenis-jenis harness panjat : Full body harness ,Sit harness 
10. Helm 
11. Sepatu 
12. Etrier/Stir Up (Tangga)
 13. Hammer (Palu) 
14. Baut, Hanger dan Bor Tebing 
15. Shunt (Pengaman Panjat Bebas) 
16. Grigi 

 PENUTUP 
DILARANG Mengambil sesuatu kecuali gambar, meninggalkan sesuatu kecuali jejak kaki membunuh sesuatu kecuali waktu 
WAJIB Memberitahukan kepada teman/ keluarga/ yang berkepentingan kemana setiap penggiat alam bebas akan pergi melakukan petualangan dan beritahukan kapan hari/ tanggal/ jam akan pulang. Bila terlambat oleh sebab apapun diusahakan menghubungi lewat telepon. 
INGAT Jangan memaksakan diri apabila kesehatan atau keterampilan tidak memadai








 Mpa.MITAPASA'14

Sabtu, 06 April 2013

Manusia dan Organisasi


19.34 

A. PENDAHULUAN 

Manusia sebagai makhluk berakal merupakan makhluk yang mendapat kedudukan tertinggi. Oleh karena itu, manusia selalu menjadi motor penggerak dalam setiap kegiatan yang ada, baik itu kegiatan untuk manusia itu sendiri sebagai individu maupun manusia sebagai makhluk sosial, bahkan pada hakikat tertinggi adalah menyadari manusia sebagai makhluk Tuhan. Dalam ilmu manajemen disebutkan bahwa manusia termasuk ke dalam salah satu aset sumber daya, yaitu sumber daya manusia. Sumber daya manusia memberikan cetusan kreatif di setiap organisasi. Kreativitas manusia itulah yang nantinya akan membawa dampak pada kemajuan atau kemunduran dari organisasi dilihat dari bagaimana manusia sebagai sumber daya tersebut mengolahnya. Orang-orang merancang dan menghasilkan barang-barang dan jasa-jasa, mengendalikan mutu, memasarkan produk-produk, mengalokasikan sumberdaya finansial, dan menetapkan keseluruhan strategi dan tujuan organisasi. Tanpa orang-orang yang efektif nampaknya sangat sulit bagi organisasi tersebut meraih tujuan-tujuannya. Tidak satupun sumberdaya yang mempunyai pengaruh yang sangat kuat terhadap organisasi selain sumber daya manusia. Sebagai salah satu sumber daya, manusia yang notebene mempunyai perilaku, akan mempengaruhi perilaku dalam organisasi tersebut. Perilaku manusia tersebut tak lepas dari bagaimana manusia tersebut mengatur dirinya sendiri sehingga dapat memberikan kontribusi kepada organisasi atau perusahaan tempat dia beraktivitas.

 B. PERMASALAHAN 
 Manusia dalam dimensinya sebagai motor dalam sebuah organisasi mempunyai peran yang sangat signifikan. Dengan demikian seberapa besar pengaruh dimensi manusia terhadap efektivitas organisasi tersebut.

C. TUJUAN PENULISAN 
Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh dimensi manusia terhadap efektivitas organisasi tersebut. 

D. SISTEMATIKA Makalah ini disusun dengan sistematika sebagai berikut: 
Pendahuluan,Permasalahan,Tujuan Penulisan, Sistematika, Dimensi Manusia, Efektivitas, Perilaku, Perilaku Individu yang mendukung Efektivitas Organisasi, Kesimpulan. 

E. DIMENSI MANUSIA 
Schein mengidentifikasikan empat tipe asumsi menejemen terhadap karyawannya: 
1. Manusia Rasional-Ekonomis : Asumsi model ini adalah bahwa orang mengevaluasi pelbagai tindakan dan memilih yang potensial memberikan manfaat maksimal. 
2. Manusia Sosial : Karyawan termotivasi pada kebutuhan sosial melalui hubungan dengan orang lain. 
3. Manusia yang mengaktualkan diri : Manusia memotivasi dan mengontrol diri untuk mendorong mereka bekerja. 
4. Manusia Kompleks : Manusia bersifat kompleks dan selalu berubah. Karyawan bisa saja mengadopsi motif baru berkat pengalaman mereka. Dengan demikian bahwa manusia dapat digolongkan ke dalam berbagai asumsi sesuai dengan kebutuhan manusia itu sendiri. Bagi para ahli yang mendukung teori-teori tentang manusia dan peranannya dalam setiap kegitan keorganisasian ataupun kegitan bekerja lainnya, bahwa manusia selalu berada dalam tahapan-tahapan untuk mencari tempat yang sesuai dengan motivasi dan kebutuhannya sendiri. 

F. EFEKTIVITAS 
 Keefektifan adalah penilaian yang dibuat secara individu sehubungan dengan prestasi individu, kelompok, dan organisasi. Makin tinggi prestasi terhadap prestasi yang diharapkan, maka makin lebih efektif kita menilai mereka. Keefektifan terdiri dari tiga perspektif: 
1. Keefektifan individual ; Perspektif ini menekankan pelaksanaan tugas dari pekerja atau organisasi. 
2. Keefektifan kelompok ; Perspektif ini adalah jumlah sumbangan dari anggotanya. 
3. Keefektifan organisasi; Perspektif keefektifan organisasi adalah keefektifan individu dan kelompok. Hubungan ketiga keefektifan tersebut bahwa keefektifan kelompok tergantung pada keefektifan individu, dan keefektifan organisasi tergantung pada keefektifan kelompok. Kriteria keefektifan meliputi: 
Produksi , Efisiensi , Kepuasan , Keadaptasian, Pengembangan .

G. PERILAKU 
Perilaku organisasi adalah penelaahan tentang individu dan kelompok dalam organisasi. Sebuah organisasi juga mempunyai perilaku yang sama dengan perilaku manusia. Perilaku berhubungan dengan kepribadian dan sikap. Perilaku yang baik akan menentukan kepribadian dan sikap yang baik pula. Perilaku individu adalah perilaku yang dimiliki oleh setiap orang. Perilaku seseorang dengan orang lain berbeda – beda. Perbedaan ini menentukan keunikan individu tersebut, sehingga juga berpengaruh pada keunikan yang terdapat dalam organisasi. Seorang manajer harus paham betul akan keunikan para pegawainya. Dalam aliran perilaku memandang bahwa organisasi terdiri dari tugas – tugas dan manusia. Adanya peranan anggota dalam kelompok sebagai faktor yang menentukan terbentuknya perilaku organisasi. Kebiasaan dan norma kelompok membentuk perilaku dan mempengaruhi tingkat produktivitasnya. 

H. PERILAKU INDIVIDU YANG MENDUKUNG EFEKTIVITAS ORGANISASI 
Perilaku individu akan memotivasi seseorang untuk memenuhi tingkaat kebutuhan individu yang tertinggi, yaitu kebutuhan akan perwujudan diri. Kebutuhan ini untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri dengan memaksimumkan pemanfaatan kemampuan, keahlian, dan potensi seseorang secara penuh. Akan tetapi, sebuah organisasi tidak dapat melepaskan begitu saja dari kebutuhan dasar manusia. Proses untuk memenuhi kebutuhan perwujudan diri dilakukan dengan mengefektifkan kinerja sehingga tercapai sebuah prestasi yang tinggi. Apabila seorang karyawan dapat memotivasi dirinya untuk memaksimalkan potensi tersebut dan merancang strategi untuk mencapai efektivitas kinerja secara pribadi, tentunya dia akan mengefektivitaskan kelompok dan mengarah kepada efektivitas organisasi. Sebuah organisasi besar yang dapat dikatakan sukses dalam menjalankan sebuah proses produksi dan jasa, tentunya tidak lepas dari kepiawaian dari manajer atau pimpinan puncak yang mendesain organisasi tersebut ke arah sebuah keefektifan kinerja denga mempertimbangkan unsur – unsur dan potensi- potensi yang dimiliki oleh individu – individu tersebut. 

I. KESIMPULAN 
Manusia dimanapun selalu mendapat kedudukan tertinggi di setiap lini kehidupannya. Demikian pula dalam keorganisasian dan bekerja. Oleh karena itu, manuisa selalu menjadi motor penggerak dalam setiap usaha pemenuhan kebutuhan baik yang sangat dasar sampai pada tingkat tertinggi yaitu aktualisasi diri. Dalam kaitannya dengan peran manusia dalam bekerja dan berkumpul dengan orang lain, manusia membutuhkan efektivitas dalam kinerjanya dengan mengedepankan perilakunya dalam organisasi tersebut. Maka dapat dikatakan bahwa manusia yang efektif adalah manusia yang memberikan kontribusi keefektifan dalam organisasinya.




Mpa. MITAPASA