Jumat, 30 Mei 2014
Rabu, 05 Februari 2014
Leader
Dengan adanya pengertian tersebut tidak dapat dipungkiri bahwa kepemimpinan tidak mutlak hanya disebabkan oleh adanya bakat dari keterunan saja. Tiap manusia yang dilahirkan ke dunia mempunyai kesempatan untuk menjadi pemimpin.
Pengertian kepemimpinan itu sendiri adalah
Robbins (1996) : kemampuan mempengaruhi suatu kelompok ke arah pencapaian tujuan.
Gemmil dan Oakley (1992) : kepemimpinan adalah sebuah proses kerjasama antara anggota organisasi dalam merumuskan metode baru untuk meningkatkan kualitas organisasi.
Psikologi dan jiwa kepemimpinan memiliki hubungan dan keterkaitan yang besar, sebagian besar pengekspresian jiwa yang ada didalam diri merupakan karekteristik kepribadian kita, hal ini dapat dilihat dari sikap atau respon kita dalam menghadapi masalah, bagaimana menyelesaikan masalah dengan baik dsb.
Seseorang yang memiliki jiwa kepemimpinan yang baik akan terlihat dari kondisi psikologi dan fisiknya, yaitu:
- Terus belajar : Pemimpin yang berprinsip menganggap hidupnya sebagai proses belajar yang tiada henti untuk mengembangkan lingkaran pengetahuan mereka
- Berorientasi pada pelayanan : Pemimpin yang berprinsip melihat kehidupan ini sebagai misi, bukan karir. Ukuran keberhasilannya adalah bagaimana bisa menolong dan melayani orang.
- Memancarkan energi positif : Secara fisik pemimpin yang berprinsip memiliki mimik yang menyenangkan dan bahagia. Mereka optimis, positif bergairah, antusias,dan penuh harap. Mereka memancarkan energi positif yang mempengaruhi orang-orang di sekitarnya.
- Mempercayai orang lain : Pemimpin yang berprinsip mempercayai orang lain. Mereka yakin orang lain mempunyai potensi yang tak tampak. Namun tidak bereaksi secara berlebihan terhadap kelemahan-kelemahan manusiawi. Mereka tidak merasa hebat saat menemukan kelemahan orang lain. Ini membuat mereka tidak menjadi naif.
- Hidup seimbang : Pemimpin yang berprinsip bukan ekstrimis. ereka sadar dan penuh pertimbangan dalam tindakan. Ini membuat diri mereka seimbang, tidak berlebihan, mampu menguasai diri, dan bijak.
- Melihat hidup sebagi sebuah petualangan : Pemimpin yang berprinsip menikmati hidup. Mereka melihat hidup ini selalu sebagai sesuatu yang baru. Mereka siap menghadapinya karena rasa aman mereka datang dari dalam diri, bukan luar. Mereka menjadi penuh kehendak, inisiatif, kreatif, berani, dinamis dan cerdik.
- Sinergistik : Pemimpin yang berprinsip itu sinergistik. Mereka adalah katalis perubahan. Setiap situasi yang dimasukinya selalu diupayakan menjadi lebih baik. Karena itu, mereka produktif dalam cara baru dan kreatif.
Walaupun untuk menciptakan jiwa kepemimpinan tersebut membutuhkan waktu yang lama, tetapi jika ada keinginan maka jiwa tersebut akan muncul.
Sumber : Harian Ekonomi NERACA
PeNDAsPALA XIX

Entah ., kenapa, mengapa, bagaimana, ya
sudah., sedikit unek2 yang rela dibagi-bagi seperti ben*-Ben*, huhahaha .......
Sak-TIL About
PENDASPALA XIX Mapala MITAPASA STAIN Salatiga
Kegiatan
Pendidikan dasar pecinta alam merupakan acara tahunan yang diselenggarakan oleh
organisasi Mapala ( Mahasiswa Pecinta Alam ) MITAPASA di STAIN Salatiga yang
bertujuan untuk merekrut anggota baru dan regenerasi pengurus kedepanya. pada
pendaspala XIX kali ini panitia mengambil tema “Unity In Diversity For
MITAPASA” dengan arti kurang lebih Bersatu dalam perbedaan untuk MITAPASA.
Jelasnya, tema ini mengandung makna yang lebih luas seperti halnya Bhineka
tunggal ika, mulai dari perbedaan karakter, latar belakang dan perilaku dari
masing-masing anggota baru, dengan harapan dari perbedaan itu, anggota baru dan lama dapat
bersatu didalam organisasi ini.
Acara
ini dilaksanakan pada tanggal 23-26 Januari 2014 untuk materi ruang bertempat
di kampus I STAIN Salatiga dan 28 Januari- 02 Febuari 2014 adalah materi lapangan di Gunung Ungaran yang
di ikuti oleh lima peserta yaitu Abu Yazid PAI’13, Sholeh Rubiyanto SKI’13, Dewi
Oktavia Ni’ami PS’13, Muhammad At-Torriq PAI’13 dan Nurul Fitrianingsih PAI’11.
Alhamdulillah berkat rahmat
Allah SWT dan kerja keras panitia dari pra sampai pasca acara, semua berjalan
tanpa ada halangan apapun alias LanCiiiiiirrr,. Walau terkadang saat di
lapangan kami hanya merasa kedinginan akibat cuaca yang sangat wow, tapi semua
itu tak memutuskan semangat panitia ataupun peserta, kekompakan antar satu
dengan yang lain jelas terlihat, tak ada kata IREN dalam acara
trsebut.Waktunya begini ya begini, begitu ya begitu .,hehe
Mengingat
yang tertera pada ALQUR’AN,surah AR RUM ayat 41,,kami semakin
bersemangat & bersungguh-sungguh dalam menjalani pendidikan dasar (PENDASPALA)
XIX, coZ bukan hanya mencetak
kader-kader pecinta alam yang tangguh ,,yang tanggap ,yang peka terhadap
perubahan lingungan,tetapi juga menumbuhkembangkan rasa kekeluargaan yang
tinggi di antara peserta & panitia ,yang belum pernah di dapatkan di lingkungan
luar,,kami mengarungi berbagai rute yang memacu adrenalin para peserta & panitia,,
bukan hanya naik GunUng, ,masuk gua saja yang kita lakukan,, tetapi kita juga menggali
lebih dalam lagi tentang lingkungan hidup kita yang kaya akan SDA.melewati
indahnya kebun teh kampoeng,,yang asri dan sejuk dengan suasana pegunungannya ,asap kabut yang
turun menambah rasa bersyukur kami kepada sang pencipta,, berbeda dengan kota
yang asap turun bukan asap kabut,, melainkan asap kendaraan bermotor yang cuman
menambah polusi & menambah dampak-dampak yang mengancam kelestarian lingkungan.
Terimakasih untuk semua pihak yang membantu , mulai dari panitia, anggota, alumni dan tamu undangan yang telah membantu terlaksananya kegiatan pendaspala XIX ini. Semoga semua anggota baru
dapat menjaga kesolitan satu angkatan maupun kepada angkatan sebelum-sebelumnya,
sehingga apa yang menjadi tema kegiatan PENDASPALA kali ini benar-benar
terwujud dalam kehidupan berorganisasi sehari-hari., yang bisa membuat MITAPASA
semakin JAYA.,.
Amin..
Minggu, 26 Januari 2014
Mountainering
MOUNTAINERING DASAR
A. PENDAHULUAN
Mountainering adalah semua jenis kegiatan alam bebas yang memerlukan peralatan tertentu serta keterampilan atau keahlian yang memadai, oleh karena risiko yang dihadapi sangat tinggi.
Mendaki gunung bukan olah raga biasa, setidaknya pendaki gunung harus memiliki mental yang lebih. Keterampilan, kecedarsan, kekuatan dan daya juang yang tinggi. Hal ini karena tantangan yang akan ia hadapi ketika menjalankan aktivitasnya sebagai penggiat alam bebas. Pada hakekatnya tantangan yang dihadapi itu akan menguji kemampuaan diri sendiri. Keberhasilan itu berarti keunggulan terhadap rasa takut dan kemenangan menghadapi diri sendiri.
Pendakian gunung dimulai sejak dua abad yang lalu. Ketika puncak pegunungan Alpen sudah berhasil didaki, para pendaki mengalihkan perhatiannya ke pegunungan Himalaya.pendakian gunung inilah yang mengawali lahirnya panjat tebing atau Rock Climbing.
Beberapa tokoh dunia dalam kegiatan pendakian, diantaranya Yvon Chouinard merupakan pemanjat pertama pada dinding utara El Capitan dan juga merupakan penemu dari pasak piton : Royal Robbins pada usia 17 tahun sudah menjadi pemandu serta mengembangkan teknik Yosernite Decimal System, yaitu sistem untuk menilai tingkat kesulitan pemanjat. Patrick Berhault pemanjat asal prancis melakukan petualangan selam 6 bulan melakukan pemanjatan 22 puncak di tebing-tebing sekitar pegunungan Alpen dari timur ke barat. Alex dan Thomas Huber,
Kakak beradik yang membuat jalur yang diberi nama Golden Gate di El Capitan dengan sistem pemanjatan Free Climbing.
B. JENIS-JENIS PEMANJATAN
Menurut bentuk dan jenis medan yang dihadapi
- Hill Walking / Feel Walking Perjalanan mendaki bukit yang relatif landai. Tidak membutuhkan peralatan teknis mendaki. Hal utama adalah jalur pemanjatan sudah tersedia. Perjalanan ini dapat memakan waktu sampai beberapa hari, sehingga keterampilan memilih tempat untuk beristirahat sangat diperlukan, kadang-kadang sudah tersedia.
- Scrambling Pemanjatan setahap demi setahap pada suatu permukaan yang tidak begitu terjal. Tangan kadang-kadang dipergunakan hanya untuk keseimbangan.
a. Face Climbing
Yaitu pemanjatan pada permukaan tebing dimana masih terdapat tonjolan atau rongga yang memadai sebagai pijakan kaki dan lengan.
Friction / Slab Climbing
Teknik ini semata-mata hanya mengandalkan gaya gesekan sebagai gaya penumpu.
b. Fissure Climbing
Teknik ini memanfatkan celah yang di pergunakan oleh anggota badan yang seolah-olah berfungsi sebagai pasak. Dengan cara demikian, dan beberapa pengembangan dikenal teknik sebagai berikut.
Proses memanjat merupakan gabungan dari berbagai kegiatan dasar, yaitu :
• Mengamati, mengenal medan dan menentukan lintasan yang akan dilalui baik secara keseluruhan maupan selangkah, yang sangat menentukan untuk langkah berikutnya.
• Memikirkan teknik yang akan dilalui baik secara keseluruhan maupun selangkah demi selangkah.
• Mempersiapkan peralatan yang diperlukan.
• Gerakan memanjat yang sesuai dengan lintasan dan teknik yang direncanakan.
C. BELAYING
Adalah suatu cara yang digunakan untuk mengulur tali, juga teknik untuk secara cepat menahan atau mengamankan pemanjat apabila terjatuh. Semua system proteksi dari Rock Climbing tergantung kepada kepastian dari kerja belay Anchor dari Belayer.
D. SISTIM PENDAKIAN
Dikenal dua macam system pendakian, yaitu
a. Himalayan Style
Sistem ini biasanya dengan rute perjalanan yang panjang, sehingga membutuhkan waktu yang lama untuk mencapai puncak. Pendakian ini terdiri dari beberapa kelompok dari tenpat peristirahatan. Pemanjatan dengan cara menghubungkan antar base camp melalui tali, perlengkapan dan makanan dikirim secara estafet dari camp ke camp. Sehingga dengan salah satu orang dari seluruh tim berarti pendakian ini sudah berhasil untuk seluruh tim.
b. Alpine Style
Sistem ini banyak di kembangkan di pegunungan di Eropa. Pendakian ini memiliki rute relative singkat sehingga semua pendaki harus sampai ke puncak baru, pendakian baru dianggap berhasil. Pemanjatan tidak lagi berhubungan dengan base camp, semua perlengkapan di bawa terus.
E. TEKNIK TURUN/ RAPPELING
Teknik ini digunakan untuk menuruni tebing. Dan dikatagorikan sebagai teknik yang sepenuhnya bergantung pada peralatan. Prinsip Rappelin sbb :
• Menggunakan tali rappel sebagai jalur lintasan dan tempat bergantung.
• Menggunakan gaya berat badan dan gaya tolak kaki pada tebing sebagai pendorong gerak turun.
• Menggunakan satu tangan untuk keseimbangan dan tangan lainnya untuk mengatur kecepatan turun.
• Dalam melakukan rappeling usahakan posisi badan selalu tegak lurus dengan yebing, dan jangan terlalu cepat turun.
Macam-macam dan variasi teknik rappelling
a. Body Rappel
Menggunakan peralatan tali saja yang dibelitkan sedemikian rupa pada bagian badan. Pada teknik ini terjadi gesekan antara badan dengan tali, sehingga badan yang bergesekan akan panas.
b. Brakebar Rappel
Menggunakan sling/ tali tubuh, carabiner, tali dan brakebar. Modifikasi lain dari brakebar adalah figure of eight pemakaiannya hampir sama di mana gaya gesek diberikan pada Descender atau brakebar.
c. Sling Rappel
Menggunakan sling, tali tubuh, carabiner dan tali. Cara ini juga sering disebut sebagai tekhnik prusiking.
d. Arm Rappel
Menggunakan tali yang dibelitkan pada kedua tangan melewati bagian belakang badan. Dipergunakan untuk tebing yang tidak terlalu curam.
F. PERALATAN DASAR MOUNTAINERING
1. Tali Lintasan
Fungsi utama tali adalah untuk melindungi pendaki dari pengaman apabila jatuh. Mengingat fungsi dari tali sanagt penting, maka tali harus kuat.
Macam tali berdasarkan kelenturannya :
a. Statis Rope
Tali pendaki yang memiliki kelenturan mencapai 2-5% dari berat maksimum yang di berikan, sifatnya kaku.
b. Dynamik Rope
Tali pendakian yang kelenturannya mencapai 5-15% dari berat maksimum yang di berikan, sifatnya lentur dan fleksibel.
Macam tali lintasan berdasarkan bahan pembuatannya :
* Tali serat alam
Tali jenis ini sudang jarang digunakan, kekuatan tali ini rendah dan mudah terburai, tidak memiliki kelenturan.
* Hawser Laid
Tali sintetis plastic yang dijalin seperti tali serat. Tali relatif lebih kuat kelemahannya adalah tali ini kurang tahan terhadap bahan kimia dan tali ini sulit untuk disimpul. Mempunyai kelenturan rendah.
* Carnmantel Rope
Tali yang sering digunakan untuk segala jenis kegiatan mountainering, tali ini terdiri dari dalam dua lapisan terbuat dari baja yang kuat, kemudian ditutup dengan lapisan luar yang terbuat dari mantel.
2. Webbing (tali pita) dan sling
Memiliki bentuk seperti pita dan ada 2 macam :
a. Lebar 25 mm berbentuk tabular (dua lapis) sering di gunakan untuk tali tubuh, swambelt, dan alat berbentuk peralatan lainnya.
b. Lebar 50 mm dan berbentuk pipih
Sedangkan sling adalah pita lingkar yang terbuat dari tabular webbing. Fungsinya membuat natural point, menrangi gaya gesek / memperpanjang point, mengurangi gerakan pada chock, dan piton yang terpasang.
3. Carabiner
Ada 2 macam carabiners, yaitu :
1. Carabiner Screw Gate ( menggunakan kunci pengaman )
2. Carabiner Non Screw Gate ( tanpa kunci pengaman )
4. Descender
Beberapa jenis Descender :
a. Figure of Eight
b. Auto Stop dan Non Auto Stop
c. Modifikasi Carabiners
5. Ascender
Macam Ascendeur adalah : prusik, jumar, dan clog.
6. Pasak / Piton
Ada 4 jenis piton
a. Bongs c. Knife- blades dan
b. Bugaboos d. Angle.
7. Chock
Chock sering di sebut dengan pengaman sisip yang macamnay adalah :
a. Stoper (simetris)
b. Hexentrik (simetris/segi 6)
c. Tri Cam (seperti pengungkit)
d. Copper Head (bandul tembaga)
8. Friend / Pengaman Sisip Pegas
9. Harness / Sabuk Pengaman
Jenis-jenis harness panjat : Full body harness ,Sit harness
10. Helm
11. Sepatu
12. Etrier/Stir Up (Tangga)
13. Hammer (Palu)
14. Baut, Hanger dan Bor Tebing
15. Shunt (Pengaman Panjat Bebas)
16. Grigi
PENUTUP
DILARANG Mengambil sesuatu kecuali gambar, meninggalkan sesuatu kecuali jejak kaki membunuh sesuatu kecuali waktu
WAJIB Memberitahukan kepada teman/ keluarga/ yang berkepentingan kemana setiap penggiat alam bebas akan pergi melakukan petualangan dan beritahukan kapan hari/ tanggal/ jam akan pulang. Bila terlambat oleh sebab apapun diusahakan menghubungi lewat telepon.
INGAT Jangan memaksakan diri apabila kesehatan atau keterampilan tidak memadai
Mpa.MITAPASA'14
Sabtu, 06 April 2013
Manusia dan Organisasi
19.34
A. PENDAHULUAN
Manusia sebagai makhluk berakal merupakan makhluk yang mendapat kedudukan tertinggi. Oleh karena itu, manusia selalu menjadi motor penggerak dalam setiap kegiatan yang ada, baik itu kegiatan untuk manusia itu sendiri sebagai individu maupun manusia sebagai makhluk sosial, bahkan pada hakikat tertinggi adalah menyadari manusia sebagai makhluk Tuhan.
Dalam ilmu manajemen disebutkan bahwa manusia termasuk ke dalam salah satu aset sumber daya, yaitu sumber daya manusia. Sumber daya manusia memberikan cetusan kreatif di setiap organisasi. Kreativitas manusia itulah yang nantinya akan membawa dampak pada kemajuan atau kemunduran dari organisasi dilihat dari bagaimana manusia sebagai sumber daya tersebut mengolahnya.
Orang-orang merancang dan menghasilkan barang-barang dan jasa-jasa, mengendalikan mutu, memasarkan produk-produk, mengalokasikan sumberdaya finansial, dan menetapkan keseluruhan strategi dan tujuan organisasi. Tanpa orang-orang yang efektif nampaknya sangat sulit bagi organisasi tersebut meraih tujuan-tujuannya. Tidak satupun sumberdaya yang mempunyai pengaruh yang sangat kuat terhadap organisasi selain sumber daya manusia.
Sebagai salah satu sumber daya, manusia yang notebene mempunyai perilaku, akan mempengaruhi perilaku dalam organisasi tersebut. Perilaku manusia tersebut tak lepas dari bagaimana manusia tersebut mengatur dirinya sendiri sehingga dapat memberikan kontribusi kepada organisasi atau perusahaan tempat dia beraktivitas.
B. PERMASALAHAN
Manusia dalam dimensinya sebagai motor dalam sebuah organisasi mempunyai peran yang sangat signifikan. Dengan demikian seberapa besar pengaruh dimensi manusia terhadap efektivitas organisasi tersebut.
C. TUJUAN PENULISAN
Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh dimensi manusia terhadap efektivitas organisasi tersebut.
D. SISTEMATIKA
Makalah ini disusun dengan sistematika sebagai berikut:
Pendahuluan,Permasalahan,Tujuan Penulisan, Sistematika, Dimensi Manusia, Efektivitas, Perilaku, Perilaku Individu yang mendukung Efektivitas Organisasi, Kesimpulan.
E. DIMENSI MANUSIA
Schein mengidentifikasikan empat tipe asumsi menejemen terhadap karyawannya:
1. Manusia Rasional-Ekonomis : Asumsi model ini adalah bahwa orang mengevaluasi pelbagai tindakan dan memilih yang potensial memberikan manfaat maksimal.
2. Manusia Sosial : Karyawan termotivasi pada kebutuhan sosial melalui hubungan dengan orang lain.
3. Manusia yang mengaktualkan diri : Manusia memotivasi dan mengontrol diri untuk mendorong mereka bekerja.
4. Manusia Kompleks : Manusia bersifat kompleks dan selalu berubah. Karyawan bisa saja mengadopsi motif baru berkat pengalaman mereka.
Dengan demikian bahwa manusia dapat digolongkan ke dalam berbagai asumsi sesuai dengan kebutuhan manusia itu sendiri. Bagi para ahli yang mendukung teori-teori tentang manusia dan peranannya dalam setiap kegitan keorganisasian ataupun kegitan bekerja lainnya, bahwa manusia selalu berada dalam tahapan-tahapan untuk mencari tempat yang sesuai dengan motivasi dan kebutuhannya sendiri.
F. EFEKTIVITAS
Keefektifan adalah penilaian yang dibuat secara individu sehubungan dengan prestasi individu, kelompok, dan organisasi. Makin tinggi prestasi terhadap prestasi yang diharapkan, maka makin lebih efektif kita menilai mereka.
Keefektifan terdiri dari tiga perspektif:
1. Keefektifan individual ; Perspektif ini menekankan pelaksanaan tugas dari pekerja atau organisasi.
2. Keefektifan kelompok ; Perspektif ini adalah jumlah sumbangan dari anggotanya.
3. Keefektifan organisasi; Perspektif keefektifan organisasi adalah keefektifan individu dan kelompok.
Hubungan ketiga keefektifan tersebut bahwa keefektifan kelompok tergantung pada keefektifan individu, dan keefektifan organisasi tergantung pada keefektifan kelompok. Kriteria keefektifan meliputi:
Produksi
, Efisiensi
, Kepuasan
, Keadaptasian, Pengembangan .
G. PERILAKU
Perilaku organisasi adalah penelaahan tentang individu dan kelompok dalam organisasi. Sebuah organisasi juga mempunyai perilaku yang sama dengan perilaku manusia. Perilaku berhubungan dengan kepribadian dan sikap. Perilaku yang baik akan menentukan kepribadian dan sikap yang baik pula. Perilaku individu adalah perilaku yang dimiliki oleh setiap orang. Perilaku seseorang dengan orang lain berbeda – beda. Perbedaan ini menentukan keunikan individu tersebut, sehingga juga berpengaruh pada keunikan yang terdapat dalam organisasi. Seorang manajer harus paham betul akan keunikan para pegawainya.
Dalam aliran perilaku memandang bahwa organisasi terdiri dari tugas – tugas dan manusia. Adanya peranan anggota dalam kelompok sebagai faktor yang menentukan terbentuknya perilaku organisasi. Kebiasaan dan norma kelompok membentuk perilaku dan mempengaruhi tingkat produktivitasnya.
H. PERILAKU INDIVIDU YANG MENDUKUNG EFEKTIVITAS ORGANISASI
Perilaku individu akan memotivasi seseorang untuk memenuhi tingkaat kebutuhan individu yang tertinggi, yaitu kebutuhan akan perwujudan diri. Kebutuhan ini untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri dengan memaksimumkan pemanfaatan kemampuan, keahlian, dan potensi seseorang secara penuh. Akan tetapi, sebuah organisasi tidak dapat melepaskan begitu saja dari kebutuhan dasar manusia.
Proses untuk memenuhi kebutuhan perwujudan diri dilakukan dengan mengefektifkan kinerja sehingga tercapai sebuah prestasi yang tinggi.
Apabila seorang karyawan dapat memotivasi dirinya untuk memaksimalkan potensi tersebut dan merancang strategi untuk mencapai efektivitas kinerja secara pribadi, tentunya dia akan mengefektivitaskan kelompok dan mengarah kepada efektivitas organisasi.
Sebuah organisasi besar yang dapat dikatakan sukses dalam menjalankan sebuah proses produksi dan jasa, tentunya tidak lepas dari kepiawaian dari manajer atau pimpinan puncak yang mendesain organisasi tersebut ke arah sebuah keefektifan kinerja denga mempertimbangkan unsur – unsur dan potensi- potensi yang dimiliki oleh individu – individu tersebut.
I. KESIMPULAN
Manusia dimanapun selalu mendapat kedudukan tertinggi di setiap lini kehidupannya. Demikian pula dalam keorganisasian dan bekerja. Oleh karena itu, manuisa selalu menjadi motor penggerak dalam setiap usaha pemenuhan kebutuhan baik yang sangat dasar sampai pada tingkat tertinggi yaitu aktualisasi diri. Dalam kaitannya dengan peran manusia dalam bekerja dan berkumpul dengan orang lain, manusia membutuhkan efektivitas dalam kinerjanya dengan mengedepankan perilakunya dalam organisasi tersebut.
Maka dapat dikatakan bahwa manusia yang efektif adalah manusia yang memberikan kontribusi keefektifan dalam organisasinya.
Mpa. MITAPASA
Langganan:
Postingan (Atom)
-
Assalamualaikum Wr. Wb. Salam Lestari...! Diberitahukan kepada seluruh Peserta Lomba Esai Lingkungan Peringatan Hari Hutan Sedunia 2019 y...
-
Praktek Ascending dengan SRT Dalam susur gua (caving) ada dua jenis gua yaitu gua vertical dan horizontal. Perbedaan dari gua tersebut...



