Rabu, 07 Januari 2015

Materi Kepecintaalaman PENDASPALA XX




KEPECINTAALAMAN



A.    Sekilas Sejarah Pecinta Alam
Tepat pada tahun 2014 ini pecinta alam berumur ±54 sejak Pecinta alam mulai muncul sekitar tahun 60 an yang diprakarsai oleh Soe Hok Gie,  Herman O Lantang, Asminur Sofyanudin dan beberapa kawan lainya, mereka membentuk komunitas itu dikarenakan pada masa itu mulai ada perbedaan pendapat dikalangan para mahasiswa yang disebabkan kepentingan politik oleh dua pihak yang mendukung gerakan soekarno (revolusioner) dan kontra-revolusioner (Reaksioner), selain pecinta alam ada pula komunitas lain yang bersifat netral yaitu Perkumpulan Mahasiswa (PM) bandung, Ikatan Mahasiswa Djakarta (IMADA) dan lainya, pada masa itu mahasiswa FSUI mengisi kegiatan indoor dengan berdiskusi dan kegiatan outdoornya adalah mendatangi desa-desa pelosok, mendaki gunung yang dijadikan sebagai tempat mencari keheningan yang terbebas dari kepentingan politik, sekian tahun berjalan ahirnya terbentuk yaitu Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Prajnaparamita (Lambang jatidiri FSUI ) dan baru pada tahun 1971 Mapala UI resmi menjadi salah satu kegiatan kemahasiswaan .

B.     Pendapat Masyarakat
Banyak masyarakat menyatakan bahwa pecinta alam adalah orang yang kumuh, jarang mandi, gondrong, celana sobek dan terkesan semrawut dan negatif, yang aktifitasnya hanya naik gunung, panjat tebing susur gua, dan sejenisnya, lanytas bagaimanakah menurut anda ? apakah pecinta alam hanya mempunyai kegitan diatas?
pecinta alam juga mempunyai dan banyak sekali kegiatan positifnya seperti seminar lingungan, aksi bersih sungai, cabut paku, bhakti sosial, pengabdian masyarakat, peringatan hari lingungan, hari bumi dan masih banyak lagi dan aktifitas pecinta alam bukanlah sesempit pandangan masyarakat sepeti diatas pada umumnya karena pecinta alam mempunyai komitmen yang jelas untuk melestarikan alam ini.

C.    Kepecintaalaman
Sebelum kita jauh mendiskusikan lebih jauh mengenai arti kepecintaalaman marilah kita samakan persepsi tentang pecinta alam, bagaimanakah pengertian tentang pecinta alam dan Pencinta Alam.
pecinta alam merupakan kata yang berawal dari kata “cinta” kata cinta sendiri mempunyai makna yang luas, jika seorang remaja mengartikan cinta adalah “aku dan kamu” maka beda lagi dengan orang yang telah mempunyai kategori dewasa, mereka mampu mendefinisikan kata cinta sebagai rasa, untuk menjaga, memiliki, melindungi, tergantung obyek dari kata cinta itu sendiri. untuk pembahasan kata cinta tidak akan lebih jauh, kemudian pecinta adalah sebagai pelaku karena mendapat imbuhan –Pe dengan kata lain pecinta alam adalah orang yang mencintai alam, menjaga alam, melindungi alam karena rasa memiliki terhadap alam.
Selanjutnya Pencinta, menurut KBBI Pencinta adalah pelaku cinta (sifat), contoh lain jahat (Sifat) dari kata jahat ditambah imbuhan Pen- jahat maka menjadi pelaku kejahatan, maka kata cinta yang mendapat imbuhan Pen- menjadi pencinta akan mempunyai arti seorang pelaku cinta (tergantung obyeknya) dari keterangan ini jka kita menggunakan obyek alam, maka arti Pencinta alam merupakan orang yang cinta akan alam, suka, rasa memiliki, menjaga terhadap alam.
Sedangkan ke-pecinta alam-an merupakan sebuah pegangan hidup, jalan Hidup “The Way Of Life” dimana kita sebagai seorang pecinta alam harus selalu berjalan pada pegangan hidup tersebut sesuai dengan kode etik dan prinsip-prinsip pecinta alam, sementara kegiatan dialam terbuka adalah satu dari sekian banyak bentuk ekspresi dirinya dalam mengapresiasi alam dan kehidupan ini.
Sementara arti cinta itu bisa dibedakan dalam tiga hal :
1.      Passion yaitu adanya ketertarikan secara indrawi
2.      Intimate yaitu adanya hubungan yang membentuk rasa saling percaya dan rasa akrab.
3.      Commitment yaitu adanya kesediaan untuk berkorban secara sadar atas interaksi yang terjadi.
Sebagian orang mengatakan bahwa pecinta alam adalah seorang penikmat alam, peneliti lingkungan, atau petualang tetapi mereka hanya mempunyai arti cinta antara Passion dan Intimmate dan seorang pecinta alam sebenarnya akan mempunyai Passion, intimate dan commitment nah inilah Hal yang kemudian membedakan antara penikmat, penyelidik dan petuaalang dengan pecinta alam adalah komitmen, komitmen untuk menjaga secara sadar akan alam ini , yang ditanamkan kuat sejak pendidikan dasar, pengembaraan dan pergaulan dengan alam itu sendiri, pecinta alam seharusnya sadar untuk tidak menutup diri dari perubahan dan perkembangan zaman yang terjadi karena tanpa hal itu makna pecinta alam sendiri akan semakin luntur. Dan itulah tugas yang selanjutnya bagaimana kita berbenah diri sebagai pecinta alam agar makna pecinta alam bisa kembali sesuai dengan kode etik pecinta alam .
Dan yang perlu diingat kita adalah pecinta alam bukan petualang, dan penikmat alam. Karena mereka hanya bagaikan kumbang yang menghisap madu dalam bunga dan bunga apabila madu telah habis maka kumbangpun pergi mencari bunga lain, dan begitu seterusnya.

D.    Peran Pecinta Alam Dalam Melestarikan Lingkungan
Peran pecinta alam dalam upaya melestarikan lingkungan mempunyai tiga beban dan tanggung jawab moral dalam dirinya, dalam suatu wadah organisai mempunyai implikasi tindakan yang berbeda-bada apabila diterjemahkan kedalam strategi dan program organisasi.
1)   Sebagai Organisasi Pecinta Alam.
Misalnya sebuah Organisasi Pecinta Alam yang ingin anggotanya berperan menjadi actor, maka organisasi tersebut harus memfasilitasi anggotanya sehingga dapat menghasilkan gagasan-gagasan alternative dan ikut serta membentu menyelesaikan masalah- masalah yang ada di masyarakat 
2)   Sebagai Organisasi Penayalur Bakat, Minat dan Hobi
Sebagai organisasi bakat minat jika merupakan pilihan mungkin tidak masalah, karena Pecinta Alam dituntut professional dalam mengembangkan skill dan minatnya dalam kepetualangan di alam bebas. Misalnya Caving, RC, GH, Rafting, dll.

3)   Sebagai Bagian Dari Gerakan Yang Bergerak Dibidang Lingkungan
Sebagai gerakan lingkungan dibagi menjadi tiga komponen :
a.       Publik Environmentalist adalah pada warga khalayak ramai yang berusaha memperbaiki kondisi lingkungan sekitarnya langsung lewat tindakan dan sikap mereka masing-masing
b.      Organized Anviromentalist adalah mereka yang bergerak melalui organisasi-organisasiyang didirikan untuk berusaha memperbaiki lingkungan.
c.       Enviromental Movement Organisation yaitu mereka yang bergerak melalui birokrasi-birokrasi resmi yang mengklaim diri mempunyai kewenangan diri terhadap masalah-masalah lingkungan.

E.     Penutup
Dalam kepencintaalaman banyak sekali hal-hal yang terkandung didalamnya seperti kegiatan petualangnya, kegiatan, wisata alamnya, kegiatan advokasi lingkungan, pecinta alam tidak akan pernah lepas dari hal itu, karena itu merupakan satu kesatuan dari pecinta alam, seorang yang mengaku sebagai pecintaalam tidak boleh memiih salah satunya karena pecinta alam memerlukan semuanya, walaupun alam bisa mengatur kehidupannya sendiri tetapi alam juga memerlukan sentuhan tangan manusia, dan manusiapun butuh alam untuk hidupnya.

“Alam bukanlah warisan nenek moyang tetapi titipan anak cucu, dan alam bukanlah tantangan dan bukanlah musuh yang harus ditaklukan”

Salam lestari..!!
 

Rabu, 24 September 2014

FOTO-poto Pengembaraan Anggota Muda Angkatan XIX di Gunung Kidul, Jogjakarta

Add caption

 Ini namanya DoRCE
 Pe_Dhet
RAgingMAN Gua Pertama Pith 1
 Lorong Fosil,.,WKWKW
 nge- SET -
 Narsis Pe_dhet n' doRce
 Ini Semua Minjem.,.,. hhh
Walet _
habis Discending
















 Inini Salah Satu mahluk hidup penghuni KEgelapAN
 Potensi Goa
 Ornamen./. salah Satunya
Kalajengking BRooo,. masih muda kayaknya.... 



 laba-laba.,.,. goa ke 2 (goa kering)










Lebih Banyak Foto2.,. MAu?? MAen Aja di sekret Kami., bagi2 pengalaman bareng.,


Selasa, 22 Juli 2014

Posting GAmbAR aJa ya.,.,  Ni kegiatan DIES MAULIDIYYAH XX



si SekuM Paling Ganteng................
-"
PotONG tumPeNG NI bROOOO.,,.,
 FOTo BersamA Dengan salah Satu Panti .,.,
 ini Foto Ber sama DeNGAn Salah Dua Panti
>_<
Ni, si KetuPat Bagi in Sembako Nyaaaa.,., hihahihi
 ini ><>< foTO Para Seniooorrrrrr.,. yang Pake peCi itu Angkatan TAhun 90 an., Bisa Dikatkan sbgai pendiri Deh.,.,
 yang Ini nama Ne sejawad Keci.,., yang jadi makmum tu., sok kritissss.,. liat aja cara tahiyatnya,.,. wakakkaaak
para alumni.,. dan yang Paling Kiri adlaH Lumut MAntan KEtua UMum 2012/2013












 udah Ya .,.,. kaLo mau lihat Lebih Lanjut dateNg aja di Sekret Kami.,.
Kami tunggU ya.,., Muahc

oh iya .,Hampir Lupa ,.,

salam LESTARI....!!!




 Aku'149


Jumat, 30 Mei 2014

DIKJUT IX

DIKJUT IX
pendidikan lanjut merupakan jenjang pendidikan ke 2 setelah pendidikan pertama yaitu pendidikan dasar, dan gembangan skill kedevisian, pada setiap anggota muda mapala Mitapasa, pada DIKJUT IX kali ini diikuti oleh 5 anggota muda mapala mitapasa, yang dilaksanakan di goa kiskendo kendal dan gunung merbabu.waktu pelksanaannya adalah pada hari sabtu- senin tanggal 24-26 mei 2014.











Rabu, 05 Februari 2014

Leader


Hampir sebagian besar orang beranggapan bahwa sifat kepemimpinan itu sudah ada dari dalam diri yang merupakan bakat dan sudah terbentuk sehingga membutuhkan wadah yang baik dan tepat untuk dapat mengekspresikan jiwa kepemimpinan tersebut. Anggapan tersebut ternyata salah, ternyata jiwa kepemimpinan tersebut dapat dibentuk sendiri oleh manusia tanpa peduli apakah orang tersebut sudah berbakat dari lahir atau tidak. Menurut Ordway Tead, bahwa timbulnya seorang pemimpin, karena Membentuk diri sendiri, dipilih oleh golongan dan ditunjuk dari atas, artinya ia menjadi pemimpin karena dipercaya dan disetujui oleh pihak atasannya.
Dengan adanya pengertian tersebut tidak dapat dipungkiri bahwa kepemimpinan tidak mutlak hanya disebabkan oleh adanya bakat dari keterunan saja. Tiap manusia yang dilahirkan ke dunia mempunyai kesempatan untuk menjadi pemimpin.

Pengertian kepemimpinan itu sendiri adalah 
Robbins (1996)                     : kemampuan mempengaruhi suatu kelompok ke arah pencapaian tujuan.
Gemmil dan Oakley (1992)  :  kepemimpinan adalah sebuah proses kerjasama antara anggota organisasi dalam merumuskan metode   baru untuk meningkatkan kualitas organisasi.
Psikologi dan jiwa kepemimpinan memiliki hubungan dan keterkaitan yang besar, sebagian besar pengekspresian jiwa yang ada didalam diri merupakan karekteristik kepribadian kita, hal ini dapat dilihat dari sikap atau respon kita dalam menghadapi masalah, bagaimana menyelesaikan masalah dengan baik dsb.
Seseorang yang memiliki jiwa kepemimpinan yang baik akan terlihat dari kondisi psikologi dan fisiknya, yaitu:
  1. Terus belajar : Pemimpin yang berprinsip menganggap hidupnya sebagai proses belajar yang tiada henti untuk mengembangkan lingkaran pengetahuan mereka
  2. Berorientasi pada pelayanan : Pemimpin yang berprinsip melihat kehidupan ini sebagai misi, bukan karir.  Ukuran keberhasilannya adalah bagaimana bisa menolong dan melayani orang.
  3. Memancarkan energi positif : Secara fisik pemimpin yang berprinsip memiliki mimik yang menyenangkan dan bahagia. Mereka optimis, positif bergairah, antusias,dan penuh harap. Mereka memancarkan energi positif yang mempengaruhi orang-orang di sekitarnya.
  4. Mempercayai orang lain : Pemimpin yang berprinsip mempercayai orang lain. Mereka yakin orang lain mempunyai potensi yang tak tampak. Namun tidak bereaksi secara berlebihan terhadap kelemahan-kelemahan manusiawi. Mereka tidak merasa hebat saat menemukan kelemahan orang lain. Ini membuat mereka tidak menjadi naif.
  5. Hidup seimbang : Pemimpin yang berprinsip bukan ekstrimis. ereka sadar dan penuh pertimbangan dalam tindakan. Ini membuat diri mereka seimbang, tidak berlebihan, mampu menguasai diri, dan bijak.
  6. Melihat hidup sebagi sebuah petualangan : Pemimpin yang berprinsip menikmati hidup. Mereka melihat hidup ini selalu sebagai sesuatu yang baru. Mereka siap menghadapinya karena rasa aman mereka datang dari dalam diri, bukan luar. Mereka menjadi penuh kehendak, inisiatif, kreatif, berani, dinamis dan cerdik.
  7. Sinergistik : Pemimpin yang berprinsip itu sinergistik. Mereka adalah katalis perubahan. Setiap situasi yang dimasukinya selalu diupayakan menjadi lebih baik. Karena itu, mereka produktif dalam cara baru dan kreatif.
Tidak dapat dipungkiri bahwa memang jiwa kepemimpinan merupakan bakat sejak lahir tetapi jiwa kepemimpinan juga dapat dibentuk. Jadi tidak ada alasan bagi kita untuk pesimis dan berkata bahwa kepimpinan hanya dimiliki untuk orang yang telah berbakat sejak dahulu. Jiwa kepemimpinan dapat dibentuk karena adanya dukungan-dukungan baik dari dalam dan luar, yaitu adanya kemauan untuk menjadi pemimpin, adanya keberanian untuk berpendapat, adanya keberanian untuk mensosialisasikan diri dengan lingkungan,adanya keberanian untuk menerima pendapat dari orang lain dan yang paling penting adalah adanya kesempatan baik waktu dan keinginan untuk mewujudkan semua itu.
Walaupun untuk menciptakan jiwa kepemimpinan tersebut membutuhkan waktu yang lama, tetapi jika ada keinginan maka jiwa tersebut akan muncul.






Sumber : Harian Ekonomi NERACA

PeNDAsPALA XIX


 Alhamdulillah segala puji bagi Allah tuhan seluruh alam, sholawat salam kepada Nabi Muhammad SAW yang telah melimpahkan taufiq hidayah kepada kita semua. Amin
Entah ., kenapa, mengapa, bagaimana, ya sudah., sedikit unek2 yang rela dibagi-bagi seperti ben*-Ben*, huhahaha .......

Sak-TIL About PENDASPALA XIX Mapala MITAPASA STAIN Salatiga

Kegiatan Pendidikan dasar pecinta alam merupakan acara tahunan yang diselenggarakan oleh organisasi Mapala ( Mahasiswa Pecinta Alam ) MITAPASA di STAIN Salatiga yang bertujuan untuk merekrut anggota baru dan regenerasi pengurus kedepanya. pada pendaspala XIX kali ini panitia mengambil tema “Unity In Diversity For MITAPASA” dengan arti kurang lebih Bersatu dalam perbedaan untuk MITAPASA. Jelasnya, tema ini mengandung makna yang lebih luas seperti halnya Bhineka tunggal ika, mulai dari perbedaan karakter, latar belakang dan perilaku dari masing-masing anggota baru, dengan harapan dari  perbedaan itu, anggota baru dan lama dapat bersatu didalam organisasi ini.

Acara ini dilaksanakan pada tanggal 23-26 Januari 2014 untuk materi ruang bertempat di kampus I STAIN Salatiga dan 28 Januari- 02 Febuari 2014  adalah materi lapangan di Gunung Ungaran yang di ikuti oleh lima peserta yaitu Abu Yazid PAI’13, Sholeh Rubiyanto SKI’13, Dewi Oktavia Ni’ami PS’13, Muhammad At-Torriq PAI’13 dan Nurul Fitrianingsih PAI’11.

Alhamdulillah berkat rahmat Allah SWT dan kerja keras panitia dari pra sampai pasca acara, semua berjalan tanpa ada halangan apapun alias LanCiiiiiirrr,. Walau terkadang saat di lapangan kami hanya merasa kedinginan akibat cuaca yang sangat wow, tapi semua itu tak memutuskan semangat panitia ataupun peserta, kekompakan antar satu dengan yang lain jelas terlihat, tak ada kata IREN dalam acara trsebut.Waktunya begini ya begini, begitu ya begitu .,hehe

Mengingat  yang  tertera pada  ALQUR’AN,surah AR RUM ayat 41,,kami semakin bersemangat & bersungguh-sungguh dalam menjalani pendidikan dasar (PENDASPALA) XIX, coZ bukan hanya  mencetak kader-kader pecinta alam yang tangguh ,,yang tanggap ,yang peka terhadap perubahan lingungan,tetapi juga menumbuhkembangkan rasa kekeluargaan yang tinggi di antara peserta & panitia ,yang belum pernah di dapatkan di lingkungan luar,,kami mengarungi berbagai rute yang memacu adrenalin para peserta & panitia,, bukan hanya naik GunUng, ,masuk gua saja yang kita lakukan,, tetapi kita juga menggali lebih dalam lagi tentang lingkungan hidup kita yang kaya akan SDA.melewati indahnya kebun teh kampoeng,,yang asri dan sejuk  dengan suasana pegunungannya ,asap kabut yang turun menambah rasa bersyukur kami kepada sang pencipta,, berbeda dengan kota yang asap turun bukan asap kabut,, melainkan asap kendaraan bermotor yang cuman menambah polusi & menambah dampak-dampak yang mengancam kelestarian lingkungan.

Terimakasih untuk semua pihak yang membantu , mulai dari panitia, anggota, alumni dan tamu undangan yang telah membantu terlaksananya kegiatan pendaspala XIX ini. Semoga semua anggota baru dapat menjaga kesolitan satu angkatan maupun kepada angkatan sebelum-sebelumnya, sehingga apa yang menjadi tema kegiatan PENDASPALA kali ini benar-benar terwujud dalam kehidupan berorganisasi sehari-hari., yang bisa membuat MITAPASA semakin JAYA.,.
Amin..


Salam Lestari..!!








iler & cuLun' 14



Minggu, 26 Januari 2014

Mountainering

MOUNTAINERING DASAR

 A. PENDAHULUAN 
 Mountainering adalah semua jenis kegiatan alam bebas yang memerlukan peralatan tertentu serta keterampilan atau keahlian yang memadai, oleh karena risiko yang dihadapi sangat tinggi. Mendaki gunung bukan olah raga biasa, setidaknya pendaki gunung harus memiliki mental yang lebih. Keterampilan, kecedarsan, kekuatan dan daya juang yang tinggi. Hal ini karena tantangan yang akan ia hadapi ketika menjalankan aktivitasnya sebagai penggiat alam bebas. Pada hakekatnya tantangan yang dihadapi itu akan menguji kemampuaan diri sendiri. Keberhasilan itu berarti keunggulan terhadap rasa takut dan kemenangan menghadapi diri sendiri. Pendakian gunung dimulai sejak dua abad yang lalu. Ketika puncak pegunungan Alpen sudah berhasil didaki, para pendaki mengalihkan perhatiannya ke pegunungan Himalaya.pendakian gunung inilah yang mengawali lahirnya panjat tebing atau Rock Climbing. Beberapa tokoh dunia dalam kegiatan pendakian, diantaranya Yvon Chouinard merupakan pemanjat pertama pada dinding utara El Capitan dan juga merupakan penemu dari pasak piton : Royal Robbins pada usia 17 tahun sudah menjadi pemandu serta mengembangkan teknik Yosernite Decimal System, yaitu sistem untuk menilai tingkat kesulitan pemanjat. Patrick Berhault pemanjat asal prancis melakukan petualangan selam 6 bulan melakukan pemanjatan 22 puncak di tebing-tebing sekitar pegunungan Alpen dari timur ke barat. Alex dan Thomas Huber, Kakak beradik yang membuat jalur yang diberi nama Golden Gate di El Capitan dengan sistem pemanjatan Free Climbing. 

 B. JENIS-JENIS PEMANJATAN 
 Menurut bentuk dan jenis medan yang dihadapi 
  1. Hill Walking / Feel Walking Perjalanan mendaki bukit yang relatif landai. Tidak membutuhkan peralatan teknis mendaki. Hal utama adalah jalur pemanjatan sudah tersedia. Perjalanan ini dapat memakan waktu sampai beberapa hari, sehingga keterampilan memilih tempat untuk beristirahat sangat diperlukan, kadang-kadang sudah tersedia. 
  2. Scrambling Pemanjatan setahap demi setahap pada suatu permukaan yang tidak begitu terjal. Tangan kadang-kadang dipergunakan hanya untuk keseimbangan.
a. Face Climbing Yaitu pemanjatan pada permukaan tebing dimana masih terdapat tonjolan atau rongga yang memadai sebagai pijakan kaki dan lengan. Friction / Slab Climbing Teknik ini semata-mata hanya mengandalkan gaya gesekan sebagai gaya penumpu. 
b. Fissure Climbing Teknik ini memanfatkan celah yang di pergunakan oleh anggota badan yang seolah-olah berfungsi sebagai pasak. Dengan cara demikian, dan beberapa pengembangan dikenal teknik sebagai berikut. Proses memanjat merupakan gabungan dari berbagai kegiatan dasar, yaitu : 
• Mengamati, mengenal medan dan menentukan lintasan yang akan dilalui baik secara keseluruhan maupan selangkah, yang sangat menentukan untuk langkah berikutnya.
 • Memikirkan teknik yang akan dilalui baik secara keseluruhan maupun selangkah demi selangkah.
 • Mempersiapkan peralatan yang diperlukan.
 • Gerakan memanjat yang sesuai dengan lintasan dan teknik yang direncanakan. 

C. BELAYING 
Adalah suatu cara yang digunakan untuk mengulur tali, juga teknik untuk secara cepat menahan atau mengamankan pemanjat apabila terjatuh. Semua system proteksi dari Rock Climbing tergantung kepada kepastian dari kerja belay Anchor dari Belayer.

D. SISTIM PENDAKIAN 
Dikenal dua macam system pendakian, yaitu a. Himalayan Style Sistem ini biasanya dengan rute perjalanan yang panjang, sehingga membutuhkan waktu yang lama untuk mencapai puncak. Pendakian ini terdiri dari beberapa kelompok dari tenpat peristirahatan. Pemanjatan dengan cara menghubungkan antar base camp melalui tali, perlengkapan dan makanan dikirim secara estafet dari camp ke camp. Sehingga dengan salah satu orang dari seluruh tim berarti pendakian ini sudah berhasil untuk seluruh tim. b. Alpine Style Sistem ini banyak di kembangkan di pegunungan di Eropa. Pendakian ini memiliki rute relative singkat sehingga semua pendaki harus sampai ke puncak baru, pendakian baru dianggap berhasil. Pemanjatan tidak lagi berhubungan dengan base camp, semua perlengkapan di bawa terus.

 E. TEKNIK TURUN/ RAPPELING 
Teknik ini digunakan untuk menuruni tebing. Dan dikatagorikan sebagai teknik yang sepenuhnya bergantung pada peralatan. Prinsip Rappelin sbb : 
• Menggunakan tali rappel sebagai jalur lintasan dan tempat bergantung.
• Menggunakan gaya berat badan dan gaya tolak kaki pada tebing sebagai pendorong gerak turun. 
• Menggunakan satu tangan untuk keseimbangan dan tangan lainnya untuk mengatur kecepatan turun.
• Dalam melakukan rappeling usahakan posisi badan selalu tegak lurus dengan yebing, dan jangan terlalu cepat turun. 
Macam-macam dan variasi teknik rappelling 
a. Body Rappel Menggunakan peralatan tali saja yang dibelitkan sedemikian rupa pada bagian badan. Pada teknik ini terjadi gesekan antara badan dengan tali, sehingga badan yang bergesekan akan panas. 
b. Brakebar Rappel Menggunakan sling/ tali tubuh, carabiner, tali dan brakebar. Modifikasi lain dari brakebar adalah figure of eight pemakaiannya hampir sama di mana gaya gesek diberikan pada Descender atau brakebar. 
c. Sling Rappel Menggunakan sling, tali tubuh, carabiner dan tali. Cara ini juga sering disebut sebagai tekhnik prusiking. 
d. Arm Rappel Menggunakan tali yang dibelitkan pada kedua tangan melewati bagian belakang badan. Dipergunakan untuk tebing yang tidak terlalu curam. 

 F. PERALATAN DASAR MOUNTAINERING 
1. Tali Lintasan Fungsi utama tali adalah untuk melindungi pendaki dari pengaman apabila jatuh. Mengingat fungsi dari tali sanagt penting, maka tali harus kuat. Macam tali berdasarkan kelenturannya :
a. Statis Rope Tali pendaki yang memiliki kelenturan mencapai 2-5% dari berat maksimum yang di berikan, sifatnya kaku. 
b. Dynamik Rope Tali pendakian yang kelenturannya mencapai 5-15% dari berat maksimum yang di berikan, sifatnya lentur dan fleksibel. Macam tali lintasan berdasarkan bahan pembuatannya : * Tali serat alam Tali jenis ini sudang jarang digunakan, kekuatan tali ini rendah dan mudah terburai, tidak memiliki kelenturan. * Hawser Laid Tali sintetis plastic yang dijalin seperti tali serat. Tali relatif lebih kuat kelemahannya adalah tali ini kurang tahan terhadap bahan kimia dan tali ini sulit untuk disimpul. Mempunyai kelenturan rendah. * Carnmantel Rope Tali yang sering digunakan untuk segala jenis kegiatan mountainering, tali ini terdiri dari dalam dua lapisan terbuat dari baja yang kuat, kemudian ditutup dengan lapisan luar yang terbuat dari mantel. 2. Webbing (tali pita) dan sling Memiliki bentuk seperti pita dan ada 2 macam : 
a. Lebar 25 mm berbentuk tabular (dua lapis) sering di gunakan untuk tali tubuh, swambelt, dan alat berbentuk peralatan lainnya. 
b. Lebar 50 mm dan berbentuk pipih Sedangkan sling adalah pita lingkar yang terbuat dari tabular webbing. Fungsinya membuat natural point, menrangi gaya gesek / memperpanjang point, mengurangi gerakan pada chock, dan piton yang terpasang.
3. Carabiner Ada 2 macam carabiners, yaitu : 1. Carabiner Screw Gate ( menggunakan kunci pengaman ) 2. Carabiner Non Screw Gate ( tanpa kunci pengaman ) 
4. Descender Beberapa jenis Descender : a. Figure of Eight b. Auto Stop dan Non Auto Stop c. Modifikasi Carabiners 
5. Ascender Macam Ascendeur adalah : prusik, jumar, dan clog. 
6. Pasak / Piton Ada 4 jenis piton a. Bongs c. Knife- blades dan b. Bugaboos d. Angle.
7. Chock Chock sering di sebut dengan pengaman sisip yang macamnay adalah :
a. Stoper (simetris) 
b. Hexentrik (simetris/segi 6) 
c. Tri Cam (seperti pengungkit) 
d. Copper Head (bandul tembaga) 

8. Friend / Pengaman Sisip Pegas 
9. Harness / Sabuk Pengaman Jenis-jenis harness panjat : Full body harness ,Sit harness 
10. Helm 
11. Sepatu 
12. Etrier/Stir Up (Tangga)
 13. Hammer (Palu) 
14. Baut, Hanger dan Bor Tebing 
15. Shunt (Pengaman Panjat Bebas) 
16. Grigi 

 PENUTUP 
DILARANG Mengambil sesuatu kecuali gambar, meninggalkan sesuatu kecuali jejak kaki membunuh sesuatu kecuali waktu 
WAJIB Memberitahukan kepada teman/ keluarga/ yang berkepentingan kemana setiap penggiat alam bebas akan pergi melakukan petualangan dan beritahukan kapan hari/ tanggal/ jam akan pulang. Bila terlambat oleh sebab apapun diusahakan menghubungi lewat telepon. 
INGAT Jangan memaksakan diri apabila kesehatan atau keterampilan tidak memadai








 Mpa.MITAPASA'14

Sabtu, 06 April 2013

Manusia dan Organisasi


19.34 

A. PENDAHULUAN 

Manusia sebagai makhluk berakal merupakan makhluk yang mendapat kedudukan tertinggi. Oleh karena itu, manusia selalu menjadi motor penggerak dalam setiap kegiatan yang ada, baik itu kegiatan untuk manusia itu sendiri sebagai individu maupun manusia sebagai makhluk sosial, bahkan pada hakikat tertinggi adalah menyadari manusia sebagai makhluk Tuhan. Dalam ilmu manajemen disebutkan bahwa manusia termasuk ke dalam salah satu aset sumber daya, yaitu sumber daya manusia. Sumber daya manusia memberikan cetusan kreatif di setiap organisasi. Kreativitas manusia itulah yang nantinya akan membawa dampak pada kemajuan atau kemunduran dari organisasi dilihat dari bagaimana manusia sebagai sumber daya tersebut mengolahnya. Orang-orang merancang dan menghasilkan barang-barang dan jasa-jasa, mengendalikan mutu, memasarkan produk-produk, mengalokasikan sumberdaya finansial, dan menetapkan keseluruhan strategi dan tujuan organisasi. Tanpa orang-orang yang efektif nampaknya sangat sulit bagi organisasi tersebut meraih tujuan-tujuannya. Tidak satupun sumberdaya yang mempunyai pengaruh yang sangat kuat terhadap organisasi selain sumber daya manusia. Sebagai salah satu sumber daya, manusia yang notebene mempunyai perilaku, akan mempengaruhi perilaku dalam organisasi tersebut. Perilaku manusia tersebut tak lepas dari bagaimana manusia tersebut mengatur dirinya sendiri sehingga dapat memberikan kontribusi kepada organisasi atau perusahaan tempat dia beraktivitas.

 B. PERMASALAHAN 
 Manusia dalam dimensinya sebagai motor dalam sebuah organisasi mempunyai peran yang sangat signifikan. Dengan demikian seberapa besar pengaruh dimensi manusia terhadap efektivitas organisasi tersebut.

C. TUJUAN PENULISAN 
Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh dimensi manusia terhadap efektivitas organisasi tersebut. 

D. SISTEMATIKA Makalah ini disusun dengan sistematika sebagai berikut: 
Pendahuluan,Permasalahan,Tujuan Penulisan, Sistematika, Dimensi Manusia, Efektivitas, Perilaku, Perilaku Individu yang mendukung Efektivitas Organisasi, Kesimpulan. 

E. DIMENSI MANUSIA 
Schein mengidentifikasikan empat tipe asumsi menejemen terhadap karyawannya: 
1. Manusia Rasional-Ekonomis : Asumsi model ini adalah bahwa orang mengevaluasi pelbagai tindakan dan memilih yang potensial memberikan manfaat maksimal. 
2. Manusia Sosial : Karyawan termotivasi pada kebutuhan sosial melalui hubungan dengan orang lain. 
3. Manusia yang mengaktualkan diri : Manusia memotivasi dan mengontrol diri untuk mendorong mereka bekerja. 
4. Manusia Kompleks : Manusia bersifat kompleks dan selalu berubah. Karyawan bisa saja mengadopsi motif baru berkat pengalaman mereka. Dengan demikian bahwa manusia dapat digolongkan ke dalam berbagai asumsi sesuai dengan kebutuhan manusia itu sendiri. Bagi para ahli yang mendukung teori-teori tentang manusia dan peranannya dalam setiap kegitan keorganisasian ataupun kegitan bekerja lainnya, bahwa manusia selalu berada dalam tahapan-tahapan untuk mencari tempat yang sesuai dengan motivasi dan kebutuhannya sendiri. 

F. EFEKTIVITAS 
 Keefektifan adalah penilaian yang dibuat secara individu sehubungan dengan prestasi individu, kelompok, dan organisasi. Makin tinggi prestasi terhadap prestasi yang diharapkan, maka makin lebih efektif kita menilai mereka. Keefektifan terdiri dari tiga perspektif: 
1. Keefektifan individual ; Perspektif ini menekankan pelaksanaan tugas dari pekerja atau organisasi. 
2. Keefektifan kelompok ; Perspektif ini adalah jumlah sumbangan dari anggotanya. 
3. Keefektifan organisasi; Perspektif keefektifan organisasi adalah keefektifan individu dan kelompok. Hubungan ketiga keefektifan tersebut bahwa keefektifan kelompok tergantung pada keefektifan individu, dan keefektifan organisasi tergantung pada keefektifan kelompok. Kriteria keefektifan meliputi: 
Produksi , Efisiensi , Kepuasan , Keadaptasian, Pengembangan .

G. PERILAKU 
Perilaku organisasi adalah penelaahan tentang individu dan kelompok dalam organisasi. Sebuah organisasi juga mempunyai perilaku yang sama dengan perilaku manusia. Perilaku berhubungan dengan kepribadian dan sikap. Perilaku yang baik akan menentukan kepribadian dan sikap yang baik pula. Perilaku individu adalah perilaku yang dimiliki oleh setiap orang. Perilaku seseorang dengan orang lain berbeda – beda. Perbedaan ini menentukan keunikan individu tersebut, sehingga juga berpengaruh pada keunikan yang terdapat dalam organisasi. Seorang manajer harus paham betul akan keunikan para pegawainya. Dalam aliran perilaku memandang bahwa organisasi terdiri dari tugas – tugas dan manusia. Adanya peranan anggota dalam kelompok sebagai faktor yang menentukan terbentuknya perilaku organisasi. Kebiasaan dan norma kelompok membentuk perilaku dan mempengaruhi tingkat produktivitasnya. 

H. PERILAKU INDIVIDU YANG MENDUKUNG EFEKTIVITAS ORGANISASI 
Perilaku individu akan memotivasi seseorang untuk memenuhi tingkaat kebutuhan individu yang tertinggi, yaitu kebutuhan akan perwujudan diri. Kebutuhan ini untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri dengan memaksimumkan pemanfaatan kemampuan, keahlian, dan potensi seseorang secara penuh. Akan tetapi, sebuah organisasi tidak dapat melepaskan begitu saja dari kebutuhan dasar manusia. Proses untuk memenuhi kebutuhan perwujudan diri dilakukan dengan mengefektifkan kinerja sehingga tercapai sebuah prestasi yang tinggi. Apabila seorang karyawan dapat memotivasi dirinya untuk memaksimalkan potensi tersebut dan merancang strategi untuk mencapai efektivitas kinerja secara pribadi, tentunya dia akan mengefektivitaskan kelompok dan mengarah kepada efektivitas organisasi. Sebuah organisasi besar yang dapat dikatakan sukses dalam menjalankan sebuah proses produksi dan jasa, tentunya tidak lepas dari kepiawaian dari manajer atau pimpinan puncak yang mendesain organisasi tersebut ke arah sebuah keefektifan kinerja denga mempertimbangkan unsur – unsur dan potensi- potensi yang dimiliki oleh individu – individu tersebut. 

I. KESIMPULAN 
Manusia dimanapun selalu mendapat kedudukan tertinggi di setiap lini kehidupannya. Demikian pula dalam keorganisasian dan bekerja. Oleh karena itu, manuisa selalu menjadi motor penggerak dalam setiap usaha pemenuhan kebutuhan baik yang sangat dasar sampai pada tingkat tertinggi yaitu aktualisasi diri. Dalam kaitannya dengan peran manusia dalam bekerja dan berkumpul dengan orang lain, manusia membutuhkan efektivitas dalam kinerjanya dengan mengedepankan perilakunya dalam organisasi tersebut. Maka dapat dikatakan bahwa manusia yang efektif adalah manusia yang memberikan kontribusi keefektifan dalam organisasinya.




Mpa. MITAPASA